<p>Ratusan Tenong Meriahkan Tradisi Merdi Dusun di Lemiring Mojotengah</p>
Budaya

Ratusan Tenong Meriahkan Tradisi Merdi Dusun di Lemiring Mojotengah

Mojotengah,(wonosobo.sorot.co)--Warga Dusun Lemiring, Desa Mojosari, Kecamatan Mojotengah membawa sekitar 260 tenong dalam tradisi merdi dusun pada Minggu (21/11/2021). Dalam tradisi merdi dusun ini, satu tenong berbentuk bakul bundar yang terbuat dari anyaman bambu untuk mewadahi nasi dan lauk pauk.

"Merdi dusun ini sebagai wujud rasa syukur kita kepada Tuhan SWT atas kelimpahan rahmatnya selama ini," kata Kepala Desa Mojosari, Mamprah saat dikonfirmasi (21/11/2021).

Ia mengatakan jika Merdi dusun ini selalu digelar setiap tahunnya. Namun gelaran besar dengan melibatkan mayarakat banyak dan membawa hasil bumi digelar setiap dua tahun sekali. 

"Seharusnya ini digelar dua tahun lalu, tapi karena ada pandemi jadi Empat tahun kita sudah berhenti menggelar tradisi tenongan seperti ini," ungkapnya.

Ratusan tenong ini sebagai tanda puncak acara dari rangkaian merdi dusun yang telah dilakukan sebelumnya. Merdi dusun, katanya, dimulai dengan membersihkan daerah mata air di Melipan, Desa Dero Duwur, Mojotengah. Dilanjutkan dengan gelar doa bersama di pemakaman sesepuh dari dusun tersebut.

"Baru setelah itu kita adakan acara tumpengan ini dengan membawa aneka ragam jajan pasar dengan tenong," ungkapnya.

Menurut Mamprah, tradisi semacam ini memang sudah dilakukan secara turun temurun di dusun tersebut. Sehingga sebagai pelanjut generasi menjadi terpanggil untuk melanjutkan tradisi yang baik ini.

Sementara itu, Wakil Bupati Wonosobo, M Albar yang datang pada acara tersebut menyampaikan jika tradisi baik semacam ini perlu untuk diteruskan. Sebab didalamnya terkandung berbagai nilai sosial keagamaan yang masih kuat.

Dengan menggelar acara semacam ini katanya, ada nilai gotong royong yang dilakukan di masyarakat. Selain acara berdoa bersama untuk mengucapkan rasa syukur terhadap apa yang telah diberikan oleh sang pencipta.

"Tradisi kebudayaan yang baik seperti ini memang perlu untuk diteruskan. Sebagai lokal wisdom dari kebudayaan setempat," ungkapnya.

Apalagi, lanjutnya, setelah dalam dua tahun terakhir berbagai gelaran tradisi seperti tenongan ini sempat terhenti lantaran pandemi Covid 19. Dan aktivitas ekonomi masyarakat banyak yang terhenti. Meskipun berjalan, namun masih sangat terbatas.

Dengan acara seperti ini, Wabub berharap jika kembali bisa menggairahkan ekonomi masyarakat di desa-desa. Perputaran uang akan semakin bergeliat kembali didesa dan hasil pertanian bisa kembali meningkat.