Ada Nilai Sejarah, Begini Asal Usul Nama Dusun Cawet
Info Ringan

Ada Nilai Sejarah, Begini Asal Usul Nama Dusun Cawet

Kertek,(wonosobo.sorot.co)--Bagi masyarakat Jawa mendengar kata ‘cawet’ tentu akan langsung tertuju pada pakaian dalam. Oleh sebab itu, menyebut kata ‘cawet’ dianggap hal yang tabu, sehingga kurang etis jika disebutkan di muka umum. Namun, berbeda dengan cawet yang satu ini. Lantaran cawet ini merupakan nama salah satu dusun di wilayah Wonosobo.

Dusun Cawet ini terletak di Desa Surengede, Kecamatan Kertek. Walaupun sudah cukup biasa bagi masyarakat Wonosobo, tetapi nama Dusun Cawet ini masih dianggap aneh bagi warga di daerah lain. Dibalik penamaan Cawet, ternyata terdapat kisah sejarah yang pantas untuk diapresiasi. Karena terdapat nilai sejarah perjuangan didalamnya.

Seperti dijelaskan oleh mantan Kepala Desa Surengede, Sidik Sejati. Asal usul penamaan Dusun Cawet, berkaitan dengan sejarah perjuangan masyarakat mengusir penjajah Belanda. Konon, kurang lebih 200 tahun yang lalu, sekitar tahun 1800-an, wilayah Desa Surengede menjadi daerah jalur jajahan kolonial Belanda. Wilayah tersebut sering dilalui para penjajah Belanda, sehingga masyarakat kerap menjadi korban jajahan.

Masyarakat yang semuanya merupakan petani, lanjutnya, kerap dirampas hasil ladangnya, diambil hasil ternaknya serta harta bendanya. Bahkan, warga setempat yang merupakan warga pribumi, merasa sangat diinjak-injak dengan sikap penjajah Belanda yang bukan merupakan siapa-siapa disitu.

"Warga kala itu sangat tertindas. Sesepuh desa yang bernama Simbah Cahyuda tidak terima dan ingin sekali mengusir penjajah Belanda yang semaunya sendiri mengatur dan menguasai daerah itu," katanya, Minggu, (07/07/2019).

Simbah Cahyuda dan warga merasa tak terima daerahnya menjadi tempat jajahan. Mereka tak rela masyarakat di daerah itu tidak bisa menikmati hasil bumi dan tidak bisa hidup tenang di tanah sendiri. Setelah berfikir, akhirnya Simbah Cahyuda beserta penduduk setempat bertekad untuk membebaskan tanah kelahiran mereka dari penjajah. 

"Di bawah pimpinan Simbah Cahyuda, meskipun dengan alat seadanya, mereka melawan sekuat tenaga para penjajah Belanda. Dengan usaha yang tidak kenal lelah akhirnya daerah tersebut berhasil melepaskan diri dari jajahan Belanda," ungkapnya.

Pada saat melakukan perlawanan, lanjutnya, ceritanya para laki-laki saat itu hanya mengenakan pakaian bawah saja dan dengan dada terbuka. Pada kesempatan sebelum berangkat melawan penjajah Simbah Cahyuda berpesan bila tanah tersebut terlepas dari belenggu penjajahan dan ramai, maka daerahnya diberi nama Cawet.

"Konon ceritanya dulu masyarakat khususnya laki-laki pada saat itu hanya menggunakan pakaian bawah saja dan dengan dada terbuka. Oleh sebab itu setelah menang melawan penjajah dusun ini dinamai Dusun Cawet," pungkasnya.