Berhenti Mengajar, Mantan Guru TK Sukses Tekuni Budidaya Jamur
Ekonomi

Berhenti Mengajar, Mantan Guru TK Sukses Tekuni Budidaya Jamur

Wonosobo,(wonosobo.sorot.co)--Kebutuhan jamur untuk konsumsi di wilayah Wonosobo, sebagian masih dipasok dari luar daerah seperti Temanggung dan Banjarnegara. Kondisi itu membuat Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Dusun Kunci, Desa Bojasari, Kecamatan Kertek, Ratna Suranti mantap menggarap budidaya Jamur.

Sekitar 6 tahun silam ia mengubah sebuah kamar berukuran 3 kali 4 meter menjadi tempat media tanam jamur tiram.

"2013, saya dan suami mulai mantap fokus ke budidaya jamur yang awalnya hanya untuk pendapatan harian saja. Diawali dari saya sendiri, sekarang sudah ada sekitar 10 petani. Saya dan suami sekarang fokus ke pembuatan baglog dan juga mengkoordinir pengepulan atau menerima penjualan hasil dari para petani," katanya, Sabtu (06/07/2019).

Kemudian, Ratna mulai menularkan pengetahuannya tentang budidaya jamur kepada para ibu yang memang mayoritas mereka tinggal di sekitar rumahnya. Setelah mantap terjun di budidaya jamur, Ratna akhirnya memutuskan berhenti dari profesinya sebagai guru TK. Bahkan langkah itu juga diikuti sang suami yang selama belasan tahun menjadi seorang kepala dusun setempat. 

"Sampai sekarang, produksi jamur lokal kita memang belum mampu penuhi kebutuhan lokal. Kebanyakan dari Temanggung. Selain mulai dari dusun sendiri, kami juga berjejaring lewat grup WA. Sekarang satu petani minimal bisa budidayakan hingga 5.000 baglog di sini," ungkap Ratna.

Yusup Purnomo, suami Ratna juga membenarkan bahwa mulai dari benih, Wonosobo awalnya masih sangat bergantung. Saat ini, tengah diusahakan untuk bisa menyediakan benih F3 sendiri sebagai kebutuhan lokal. Di level Desa Bojasari, pihak KWT jamur juga kini mendapat bantuan senilai Rp 5 juta untuk modal dengan bagi hasil 50% dan dijalankan para anggota KWT.

"Sekarang harga jamur tiram per kilogram di kisaran Rp9000 sampai Rp10.000 sampai di konsumen bisa sampai Rp16.000. Masalahnya harga di petani masih beda-beda tergantung kuantitas. Untuk panen harian dari satu kamar dengan ukuran 3x4 saja bisa diperkirakan sampai 3 kilogram untuk jamur tiram. Sedangkan panen jamur kuping sebulan sekali dan harganya mencapai Rp70.000 untuk dijual kering. Di tahun 2013 dulu harganya masih RP 6.500 per kilo, karena memang masih sedikit pembudidayanya," bebernya.

Keberadaan para petani jamur di Dusun Kunci juga dipantau Kepala Desa Bojasari, Surame. Pihaknya berharap nantinya dusun tersebut bisa menjadi awal dari sentra Jamur di Kecamatan Kertek bahkan di Wonosobo.

"Harapan kami, komoditas jamur ini nantinya bisa mengangkat nama Bojasari sebagai sentra jamur di Kertek dan Wonosobo. Untuk itu kami support anggaran untuk kelompok wanita tani Dusun Kunci," harapnya.