<p>Pengurus MUI Wonosobo 2021-2026 Dikukuhkan, Tugas Berat Menunggu</p>
Peristiwa

Pengurus MUI Wonosobo 2021-2026 Dikukuhkan, Tugas Berat Menunggu

Wonosobo,(wonosobo.sorot.co)--Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Wonosobo masa khidmat 2021-2026 secara resmi dikukuhkan pada Selasa (11/01/2022). Pengukuhan yang digelar di Pendopo Kabupaten Wonosobo tersebut dilakukan oleh Sekretaris MUI Jateng Drs. KH. Muhidin.

Ketua Umum MUI Kabupaten Wonosobo, Dr. KH. Muchotob Hamzah menyampaikan, bahwa tugas MUI saat ini sangat berat, karena tantangan realita yang terjadi ditengah masyarakat saat ini dan ditambah isu global yang sangat mempengaruhi umat islam secara luas.

"Kita sebagai orang yang disebut ulama ini mewarisi Nabi, berarti ke-Islaman ini diserakan kepada kita. Begitu beratnya tugas kita sebagai pengurus MUI, padahal kita masih jauh dari kata ideal dibandingkan dengan realitas yang dihadapi dimasyarakat kedepan. Itulah sebabnya saya merasa sangat kecil ketika visi kita yang sedemikian tinggi, ditambah isu global yg mungkin banyak mempengaruhi umat islam secara luas, termasuk di Wonosobo," ungkapnya.

Sekretaris MUI Jateng, Drs. KH. Muhidin menyampaikan ucapan terimakasih kepada ketua terpilih yang bersedia memimpin kembali MUI Wonosobo ke sekian kalinya. Selain itu, ia mengatakan bahwa keberadaan MUI ditengah masyarakat sering kali mendapatkan sanjungan dan juga mendapatkan hujatan. Oleh karena itu ia mengajak para pengurus untuk introspeksi diri. 

"Hujatan itu muncul karena posisi MUI sebagai khodimul umah yang berkewajiban menjaga dari aqidah yang sesat, menjaga keamanan dan kehalalan makanan serta menjaga praktik muamalah yang tidak sesuai syariah. Hal inilah yang sering kali menimbulkan perkara yang sensitif dimasyarakat sehingga melahirkan berbagai tanggapan atau ktitik," jelasnya.

Lebih lanjut, ia menggambarkan posisi ulama di tengah masyarakat itu ibarat memasak atau memanggang kue bika atau juga sebut bika ambon. Dari bawah dinyalakan api, api yang dibawah itu ialah berbagai ragam keluhan rakyat. Dari atas dihimpit dengan api, api yang dari atas itu ialah harapan pemerintah.

"Nah, jika berat ke atas atau ke pemerintah, niscaya putus dari bawah atau rakyat maka otomatis berhenti jadi ulama yang didukung rakyat. Apabila berat kepada rakyat, maka akan hilang hubungan dengan pemerintah. Dengn begitu, pihak pemerintah bisa saja mencap MUI tidak berpartisipasi dengan pembangunan. Kepada umat, MUI memang barus menjadi panutan umat, lalu kepada atasaan memang kewajiban MUI untuk menjadi mitra yang kritis, mitra yang serasi dengan pemerintah," tuturnya.

Sementara itu, Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat berharap peran aktif MUI dalam menciptakan hubungan harmonis antar umat Islam dan antar umat beragama, termasuk umat Islam dengan pemerintah. Hal itu menjadi sebuah esensi penting dalam berjalannya fungsi MUI sebagai organisasi kemasyarakatan.

Kehadiran MUI dibutuhkan dalam membimbing, membina dan mengayomi seluruh kaum muslimin.

"MUI selalu hadir dan selalu ada di tengah masyarakat, tentunya kami Pemkab Wonosobo beserta jajaran akan selalu hadir memfasilitasi dan membersamai langkah tugas mulia MUI Wonosobo ini," pungkasnya.

Hadir dalam acara tersebut, Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat, Wakil Bupati M. Albar, Sekretaris MUI Jateng Drs. KH. Muhidin, jajaran Forkopimda Wonosobo serta para pimpinan MUI se-Karesidenan Kedu. Selain pengukuhan digelar juga Halaqoh (Rakor) pimpinan MUI se-Karesidenan Kedu.